Toilet Jorok, Tanggung Jawab, Dong!

JIKA dihitung di seluruh kampus Universitas Mulawarman, ada puluhan; atau bahkan ratusan toilet dengan kenyamanan yang berbeda-beda. Kebersihannya juga tidak sama.

Di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik misalnya. Memiliki tiga gedung, ada beberapa toilet di sini. Di bangunan lama ada dua, gedung tengah beberapa, dan di Program Studi Ilmu Komunikasi juga dua toilet.

Bagaimana kondisinya? Di gedung lama, tersedia dua toilet sesuai jenis kelamin. Untuk toilet perempuan, ketikaKaltim Post datang, pintunya terkunci. Sedangkan toilet pria, kendati terlihat bersih, aromanya agak kurang manusiawi.

“Masih kurang perawatan. Padahal kalau bersih dan sering diberi wewangian pasti lebih bagus,” kata Didin, mahasiswa semester IV Program Studi Hubungan Internasional, FISIP.

Di Fakultas Ekonomi agak lebih parah. Di gedung yang lama, ada satu toilet yang tidak dipisahkan menurut jenis kelamin. Kata lainnya, mahasiswi dan mahasiswa menggunakan peturasan yang sama.

Di gedung yang lainnya yang sudah berumur, dua toilet tidak bisa digunakan. Mengeluarkan bau tidak sedap dan terkadang mengganggu mahasiswa. Aroma itu sampai ke hidung mahasiswa yang sedang kuliah. Jarak ruang kuliah dengan kamar kecil terlampau dekat.

Di gedung lainnya, masih di Fekon, lantai toilet becek karena banyak debu dan pasir terkena air. Dindingnya penuh coretan. Bahkan, ada yang menulis materi kuliah. Mungkin ada yang memakai strategi mencontek ketika ujian. Pura-pura ke toilet dan melihat salinan di dinding.

Ruri Anggreina, mahasiswi semester VIII Fekon mengaku pernah menggunakan toilet di kampus. “Airnya kotor. Enggak ada lampunya dan pintunya tidak bisa ditutup jadi harus ada teman yang membantu menjaga di luar,” ungkapnya.

Toilet bagi mahasiswa Fekon jelas berbeda dengan di Dekanat, tempatnya para dosen. Di sini lebih terawat dan lebih bersih. Meski begitu, tidak semua toilet di Fekon jelek. Di gedung baru, toiletnya masih bersih dan telah dibagi menurut jenis kelamin.

Cerita menyedihkan tentang toilet datang dari Kampus III Unmul di Jalan Banggeris. Dinding toiletnya penuh lumut. Aromanya tak sedap. Pintunya bahkan tidak memiliki kunci. Jangan bayangkan kondisinya sama dengan kamar kecil di rumah atau di mal. Sangat jauh perbedaannya.

Vivi Novitasari adalah contoh mahasiswi yang trauma ke toilet. Hingga semester VI, dia mengaku belum pernah menginjak toilet kampus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Jalan Banggeris. “Saya paling tidak bisa buang air kecil di tempat yang kurang bersih. Kalau kebelet pasti ditahan sampai pulang kuliah,” ucapnya.

Entah berhubungan atau tidak, toilet-toilet di fakultas yang memiliki gedung baru justru masih bagus. Di Fakultas Teknik yang baru empat tahun ini menempati gedungnya, toiletnya masih bersih. Fasilitasnya juga berfungsi baik, kendati keran di satu wastafelnya ada yang bocor.

Tapi ada pula yang gedungnya lama tetapi toiletnya terawat. Di FKIP Unmul di Gunung Kelua, dinding kamar kecilnya bersih. Begitu pula di dalamnya. Meski aroma yang agak mengganggu dan airnya yang agak keruh.

Bagaimana di universitas yang lain? Di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag), Samarinda, Zulya Rahmanisa, mahasiswi jurusan Hukum memang tidak menyoal kebersihan toilet.

Dia hanya mengeluhkan jumlah toilet yang sedikit. “Jadi yang kebelet harus sabar menunggu,” ujar Nisa, panggilannya. Di sini, kebersihan toilet selalu terjaga karena petugasnya rajin membersihkan. Hanya pada jam sibuk, biasanya agak jorok karena belum dibersihkan.

Pendidikan

More »

Mahasiswa

More »

Kesehatan

More »

Sponsor