Stand Up Comedy Pendidikan

11.47
0
Oleh: Awaluddin Syaddad
(Alumnus PPs UNM)

Hari ini kita kembali memperingati hari pendidikan nasional (hardiknas), 2 Mei 2012. Apakah esensi peringatan hari pendidikan nasional? Sejatinya, hardiknas menjadi momentum refleksi dan proyeksi menuju tatanan pendidikan Tut Wuri Handayani.

Peringatan hari pendidikan nasional sangat menarik disimak dalam dua sisi. Pertama, kemungkinan berlanjutnya “stand up comedy” pendidikan. Kedua, berlangsungnya epos kultural Tut Wuri Handayani.
Stand up comedy pendidikan akan terjadi bila peringatan hardiknas dijadikan sebagai seremonial belaka. Dianggap sebuah formalitas saja, tidak dilakukan tindakan nyata untuk membenahi kekurangan dunia pendidikan selama ini. 

Para pemimpin dan penyelenggara pendidikan “buta dan tuli” esensi pendidikan sebagai “laboratorium” pembentukan kognitif, afektif, psikomotorik, dan karakter bagi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.

Selain itu, tumbuh suburnya praktik-praktik ketidakjujuran, mental korup, dan kecurangan politik, ekonomi, dan sosial para pemimpin. Praktik-praktik tersebut secara nyata melemahkan karakter peserta didik. Hal tersebut juga bertentangan program pembentukan karakter peserta didik yang dicanangkan pemerintah melalui pendidikan.

Epos kultural Tut Wuri Handayani akan berlangsung jika para pemimpin dan penyelenggara menjadikan hardiknas sebagai momentum refleksi dan proyeksi. Refleksi dilakukan untuk mengevaluasi seluruh program pendidikan dan menimbang plus-minus penyelenggaraan pendidikan selama ini. Kemudian dilakukan proyeksi sebagai upaya pembenahan segala kekurangan dunia pendidikan.

Stand Up Comedy 
Banyak program yang telah diusung para pemimpin negeri ini untuk membangun kualitas pendidikan dan karakter peserta didik. Di antaranya sertifikasi guru, program kantin kejujuran, pendidikan antikorupsi, dan pendidikan karakter. Program-program tersebut patut diacungi jempol. Hanya saja, yang perlu digarisbawahi para pemimpin dan penyelenggara pendidikan gagal memberikan contoh karakter yang baik bagi peserta didik.

Fenomena tersebut, menurut hemat penulis tak ubahnya stand up comedy pendidikan. Munculkan lelucon-lelucon yang mengocok perut, mengerutkan dahi, senyum sinis, tak habis pikir, hingga menggeleng-gelengkan kepala.
Karena kualitas pendidikan di negeri ini rendah, maka dikeluarkan program sertifikasi guru dan dosen untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kesejahteraan pendidik.

Dengan keluarnya program sertifikasi, para pendidik ramai-ramai mengumpulkan sertifikat dengan berbagai cara. Bahkan ada saja pendidik yang merekayasa nama dalam sertifikat untuk memenuhi “syahwat” poin yang telah ditentukan, agar lulus dan memperoleh sertifikat pendidik.

Jam mengajar pun diubah menjadi 24 jam dalam satu minggu, walaupun hanya mengajar 12 jam saja. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi syarat sertifikasi dengan jumlah total jam mengajar sebanyak 24 jam seminggu. Betapa lucunya, setiap hari pendidik selalu mengimbau kepada peserta didik agar senantiasa memiliki sifat jujur, tidak melakukan kecurangan, apalagi rekayasa. Tetapi justru pendidik sendiri yang mempraktikkan ketidakjujuran.

Adanya kekhawatiran akan punahnya sikap jujur di negeri ini, dikeluarkanlah program kantin kejujuran di sekolah, sebagai upaya pembinaan sifat jujur kepada peserta didik secara dini. Pembinaan kejujuran dilakukan selama peserta didik mengenyam pendidikan.

Sikap jujur yang dibina berakhir dengan ending yang tragis. Peserta didik diajarkan kecurangan selama UN berlangsung. Siswa diberikan jawaban oleh tim sukses UN melalui HP yang menjadi lalu lintas kunci jawaban. Seperti diberitakan Harian FAJAR edisi 20 April 2012 bahwa pengaduan masyarakat terhadap kecurangan berjumlah 433 laporan. Akhirnya, pembinaan sikap jujur jadi bubur.

Merajalelanya tindak korupsi di negeri ini, maka pemerintah berencana memasukkan pendidikan antikorupsi ke dalam kurikulum pendidikan, baik pendidikan dasar maupun pendidikan tinggi. Dengan model pembelajaran yang lebih menekankan pada penanaman nilai-nilai, pembiasaan dan penerapan pendidikan antikorupsi kehidupan sehari-hari.

Peserta didik diberikan pendidikan antikorupsi di sekolah, agar nantinya mereka tidak bermental korup. Namun, apa yang tersaji di media, para pemimpin dan penyelenggara pendidikan terang-terangan melakukan tindak korupsi, mencuri uang negara tanpa malu, dan tidak transparannya dana BOS di sekolah. Di mana logikanya, peserta didik diberikan pendidikan antikorupsi, tetapi tindak korupsi di kalangan pejabat tumbuh subur.

Albert Bandura dalam Social Learning Teory yang mengatakan bahwa anak–anak meniru perilaku agresif dari orang dewasa di sekitarnya, termasuk para pemimpin dan penyelenggara pendidikan. Bukan peserta didik yang diberikan beragam program pembentukan karakter, lalu para pemimpin tetap tidak jujur, bermental korup, melakukan berbagai rekayasa baik politik, ekonomi, dan sosial. Jadi, karakter peserta didik dapat dibangun, jika para pemimpin telah berkarakter.

Figur Tut Wuri Handayani
Saat ini, dunia pendidikan sangat membutuhkan figur yang berjiwa Tut Wuri Handayani. Yaitu, seseorang yang mampu memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang sehingga orang-orang di sekitarnya memiliki motivasi dan semangat tinggi. Selain itu, menjadi suri tauladan bagi peserta didik, orang yang dipimpin maupun masyarakat pada umumnya. Dengan jiwa Tut Wuri Handayani, maka karakter peserta didik dapat dibangun melalui pendidikan.

Olehnya itu, marilah kita menjadikan hardiknas sebagai momentum refleksi dan proyeksi menuju epos kultural Tut Wuri Handayani. Dengan menghentikan segala perilaku yang melemahkan karakter pendidik sebagai generasi penerus bangsa. Jika tidak, episode stand up comedy pendidikan akan berlanjut dan dipastikan karakter generasi penerus tidak akan dapat dibangun

0 comments:

Poskan Komentar

Tinggalkan jejak anda di kota ini.
Ini bisa membantu kami dalam mengenali anda.
Terima kasih.
Salam Blogger!

Pendidikan

More »

Mahasiswa

More »

Kesehatan

More »

Sponsor